Skip navigation

Monthly Archives: November 2008

Di pintu gerbang ini

Ku berdiri

Di tapal batas ini

Ku beristirahat menarik nafas

Berdiri bukan meratapi sunyi

Sebab tak penting bagiku meratapi sunyi

Bukan pula memikirkan skripsi

Tapi

Ku berdiri di pintu gerbang ini

Di tapal batas ini

Menyaksikan derap langkah anak manusia

Naik-turun dengan ombak

Naik-turun seiring berputarnya roda

Adakah ia menjaring, dari samudra itu, makna?

Apakah, dari pasir itu, ia mengayak emas?

Jikalau begitu sungguh beruntunglah ia

Ataukah ia

Hanya, dengan jalanya, menjaring air, yang takkan dapat dijaring?

Dengan ayakannya, hanya mengayak kerikil?

Ataukah mata kailnya hanya menyangkut pada sampah-sampah yang terapung di Teluk Jakarta?

Jika begitu, sungguh rugilah ia!

Di pintu gerbang ini

Aku masih berdiri

Di tapal batas ini

Aku mulai memandang dengan cemas

Anak itu tetap berjalan

Terkadang berlari

Sempat kulihat ia terpeleset

Sempat tampak menggigit jari

Barusan kulihat ia terbang

Tapi kemudian ia tenggelam

Di pertigaan ia berbelok kanan

Di perempatan ia berjalan lurus

Kepada Pak Polisi ia menanyakan jalan

Hujan turun sebelum ia sempat berteduh

Jalan menurun ia berlari riang

Jalan menanjak nafasnya kehabisan

Di pintu gerbang ini

Di tapal batas ini

Aku masih disini

Aku masih berdiri

Merenungi semua yang tlah kulalui

(‘met ultah ke 24!)

Advertisements