Skip navigation

sekadar pemikiran.

Lagi-lagi kita dibuat resah oleh tindak-tanduk tetangga kita, Malaysia. Banyak kasus yang menandai hitamnya, serta carut-marutnya hubungan Indonesia-Malaysia, kasus Sipadan-Ligitan, Ambalat, Manohara, pengakuan terhadap Reog, Batik, Tari Pendet, serta perlakuan buruk terhadap TKI-TKW, adalah sekelumit dari masalah tersebut. Kita pun dibuat geram menghadapi sikap mereka. Tapi betulkah itu murni karena sikap mereka? Ataukah sikap mereka merupakan dampak dari buruknya sikap kita sendiri?

Kalau kita mau menelaah masalah ini lebih dalam, tampaknya kita turut mempunyai andil dalam menciptakan masalah ini. Masalah pertama kita dengan Malaysia adalah TKI & TKW. Perlakuan buruk yang diterima TKI & TKW kita, pahlawan devisa kita, ternyata bukan 100% karena perilaku buruk orang Malaysia. Seperti yang kita tahu, tata kelola industri TKI & TKW sendiri masih carut-marut. Pungutan liar marak di mana-mana, PJTKI nakal masih marak, perlindungan hukum dari Negara pun masih minim. Kalau perkara Manohara sih saya memilih untuk tidak berkomentar.

Kemudian, masalah yang kedua adalah masalah pengakuan khazanah seni-budaya serta kekayaan alam Indonesia. Ternyata memang selama ini belum ada upaya yang sistematis dari pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk mengakui, serta melindungi khazanah seni-budaya serta alam kita. Sipadan-Ligitan lepas dari Indonesia karena kurangnya dokumen-dokumen yang dapat kita ajukan ke Mahkamah Internasional. Khazanah-khazanah seni-budaya diakui oleh Malaysia karena belum kita ‘amankan’ secara hukum, dengan pemberian paten atau proteksi-proteksi hukum lainnya.

Kekayaan alam kita, masih melanjutkan poin kedua tadi, justru lebih banyak dinikmati oleh orang asing ketimbang kita sendiri. Ketika kita bertamasya ke Singapura, Malaysia dan ke Eropa, orang-orang asing justru menikmati kekayaan alam kita. Ketika kita berobat ke Singapura, kita memberikan sinyal bahwa dunia medis di negara kita ‘tidak sebaik negara Anda’ pada mereka. Ketika kita berwisata ke KL, Genting Highlands, dan sebagainya, kita melemparkan sinyal bahwa ‘negara Anda lebih menarik dari Negara saya’. Ternyata sifat minder terhadap diri sendiri memberikan angin kepada mereka. Ternyata sinyal yang kita lemparkan tersebut dengan cepat ditangkap oleh mereka, dan setelah ditelaah dan dipelajari dengan seksama, terdapat peluang-peluang yang dapat mereka manfaatkan. Contoh jelas adalah pengakuan mereka terhadap khazanah seni-budaya serta alam kita, begitu mereka melakukan klaim atasnya ternyata kita tidak memiliki pembuktian yag cukup untuk mengakuinya sebagai milik kita.

Dalam perekonomian, terdapat segitiga pelaku ekonomi yang terdiri dari pemerintah-swasta-masyarakat. Amat naif jika saya menunjukkan jari ke salah satu pihak saja. Terjadinya peristiwa-peristiwa ini, tak lepas dari tidak seragamnya pergerakan ketiganya. Pemerintah selaku pengendali memiliki kesalahan, swasta sebagai pelaku (inisiator ekonomi) memiliki kesalahan, dan masyarakat juga sebagai konsumen memiliki kesalahan. Pemerintah terlalu lamban, swasta terlalu industrialis (dan tidak ideologis), dan konsumen menuntut terlalu banyak. Kita selalu bisa menuding siapa saja sebagai yang paling bersalah, hanya saja tampaknya akan lebih arif, bijaksana dan ksatria apabila kita bisa mengoreksi diri kita masing-masing.

Mungkin tidak semua dari kita berada dalam pemerintahan atau instansi yang terkait dengan masalah ini. Tidak semua dari kita juga terlibat dalam industri yang terkait dengan masalah ini. Tetapi kita semua, pada akhirnya juga menjadi konsumen yang mengkonsumsi berbagai macam kebutuhan. Mungkin ini sudah saatnya kita bisa berperan lebih sebagai konsumen yang bisa mengkonsumsi secara lebih baik. Setidaknya kita bisa mengendalikan ke mana tiap rupiah yang kita belanjakan: apa hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja, ataukah ada kebaikan lebih besar yang bisa tercapai?

Hanif.
Bukan pengamat hubungan internasional, pariwisata, atau seni-budaya. Hanya seseorang yang terserang insomnia dan kebetulan ada komputer dengan koneksi internet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: