Skip navigation

Monthly Archives: December 2011

Beberapa hari terakhir ini beban kerja di kantor sedang mereda. Ketika sudah bingung mau merambah laman web manalagi, tiba-tiba saya teringat kalau saya pernah iseng-iseng nge-blog. Langsung saja saya coba sambangi blog saya. Nama blognya tetap saya ingat, tapi passwordnya tidak. Setelah berusaha keras menggali kembali ingatan yang sudah terkubur oleh skripsi & persidangannya serta masalah pekerjaan (dua penyedot daya memori terbesar), dan hal-hal lainnya, seperti nomer telepon si anu dan si fulan, sepertinya saya bakal perlu sewa ekskavator dari Trakindo untuk menggalinya lagi.

Tekan “forgot password”.

Tunggu e-mail konfirmasi.

Verifikasi akun & pembuatan password baru.

Hupla! sayapun kembali bisa ng-eblog.

Sebenarnya saya sempat beberapa kali nulis memakai fitur catatan di facebook. hanya saja, begitu facebook berubah format dan dibanjiri pengiklan-pengiklan, dan saya pun ikut dibanjiri oleh kerjaan (sewaktu tahun terakhir, fase nganggur, dan setelah mendapat kerja), saya mulai agak sulit meluangkan waktu untuk kembali menulis. Sempat saya coba membuat tulisan di blackberry saya, di fitur memopad, sebuah cerita singkat, drama satu babak, yang cukup ringan. Saya uji ke dua orang pembaca, sepupu saya dan teman kuliah saya, dan ternyata tanggapannya cukup oke.
Dari situ saya berpikir, mungkin saya harus mulai menulis lagi. Menulis hal-hal yang sederhana. Dimulai dari hal-hal yang sederhana. Siapa tahu bisa nyaingi Pak Dahlan Iskan yang banyak dikagumi orang karena mampu menuliskan hal-hal yang rumit secara sederhana.

Menyederhanakan masalah, itu ternyata hal penting yang sayangnya tidak semua orang bisa. Masalah yang rumit harus disederhanakan agar dapat dimengerti. Tapi jangan digampangin. Kalau meminjam istilah yang pernah saya baca di buku tentang manajemen proyek [karangan Tobis & Tobis], si (para lebih tepat) pengarang mengutip salah satu kata-kata dari (saya lupa namanya) bahwa segala sesuatu itu harus disederhanakan, tetapi jangan lebih dari itu. “Everything should be made as simple as possible, but no simpler,” itu bunyi kutipannya (yang ternyata diutarakan oleh Einstein, tetapi saya terlalu malas untuk menggeser halaman ke atas lagi dan meralat tulisan sebelumnya).

Blog ini sudah saya telantarkan selama 27 bulan (2 tahun + 3 bulan). Dalam kurun waktu tersebut bukannya tidak ada hal menarik dalam kehidupan saya. Bukannya tidak ada peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi. Bahkan menurut salah satu sumber terpercaya, dari September 2009 hingga Desember 2011 ini terdapat setidaknya 149* peristiwa yang masuk kategori peristiwa bersejarah – rasionya berarti tiap bulan ada sekitar 5.5 peristiwa yang masuk kategori ‘bersejarah’ . Tetapi itulah, terkadang saya menunggu hal yang benar-benar luar biasa. Hal yang benar-benar spesial. Menulis memoar ekspedisi ke Kilimanjaro, misalnya. Atau catatan pribadi tentang bagaimana susah payahnya mewujudkan pemerataan pendapatan dan kelayakan hidup di seantero nusantara.

Padahal ternyata, setelah saya pikirkan, hal-hal yang sederhana pun dapat menjadi istimewa. Perkara-perkara rutin pun dapat disampaikan sehingga menjadi perkara yang menarik. Saya pikir cara penyampaian pun tak kalah penting dari hal yang disampaikan tersebut. Dalam ranah ilmu pengetahuan humaniora ini disebut pemasaran (mungkin). Kedai-kedai kopi, seperti Starbucks, Excelso, dan lain-lain, saya kira bisa berada tiga langkah didepan kedai-kedai kopi lainnya karena kemampuan penyampaian ini. “Biji kopi ini berasal dari Kepulauan XYZXYZ. Kami mengolahnya dengan cara ABC. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan, kami pun mengajari para petani di sana mengenai bagaimana cara melakukan PQRS sehingga mereka bisa mendapatkan LMNO lebih.”

Ah, inilah yang saya belum bisa & mesti saya pelajari lagi. Menyampaikan secara sederhana, menyampaikan yang sederhana. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak istimewa. Dengan cara yang istimewa.

 

*Sekadar bumbu tambahan saja. Dapat disimpulkan bahwa rasio yang menyertainya pun ngasal.