Skip navigation

Saya bukan orang yang senang dengan perpisahan. Saya juga bukan orang yang jago memilih & mencari kado untuk orang lain. Selama ini, kado yang paling sering saya berikan kepada orang adalah buku, minyak wangi & peci. Konteksnya pun lazimnya adalah selain masalah perpisahan.

Maka itu, begitu teman kantor saya resmi mengatakan kalau dia akan pindah (setelah 15 tahun), saya pun merasa gimana gitu. Sesudah pengumuman, saya berbicara dengan kawan-kawan tentang apa hadiah yang mungkin tepat untuk diberikan. Ada yang mengusulkan kaos, gelas, lukisan karikatur, lukisan mosaik, dll. “Yaudah nif, lu yang urusin yak,” kata teman-teman; jadilah saya merasa gimana gitu secara dobel.

Kita memutuskan untuk memberikan 2 hadiah, 1 gelas dan 1 lukisan. Untuk gelas, kita memilih gelas yang dapat dikustomisasi, agar ada unsur nostalgianya. “Tumbler aja, Nif. Yang dalamnya bisa diganti. Nanti kita masukin foto atau ucapan apa gitu,” usul seorang kawan yang meminta namanya dirahasiakan. Sebagai penanggung jawab yang baik, saya menerima saran dari orang yang lebih berpengalaman. Untuk lukisan, “gua pernah lihat di **masukkan nama gerai foto modern**, di sana bisa buat foto orang yang terdiri dari foto-foto yang lebih kecil. Semacam mosaik, gitu,” seorang kawan lain mengajukan usulnya. “OK, bagus juga tuh, bolehlah kita coba.”

Status per hari Selasa 10/1/2012

#1 – Tumbler starbucks….dapet!

#2 – Foto untuk dimasukkin ke tumbler…belum šŸ˜¦

#3 – Foto-foto jadul untuk dibuat dalam mosaik/lukisan/foto banner (apa itu istilah yang tepat?)….35

#4 – Ada masukan untuk membuat karikatur saja ketimbang foto mosaik…..konflik dengan poin #3 di atas. arggghhhhh!

Akhirnya kita memilih karikatur daripada mosaik.

Agenda untuk Hari Rabu: Cari, tawar & pesan karikatur untuk diberikan pada hari Kamis.

Rabu pagi, akhirnya saya dan Rakha berangkat ke Lapangan Banteng dengan semangat Auld Lang Syne, “untuk kawan.” Jam 11 pagi lewat dikit kami sampai di satu kios. Langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Rakha menyampaikan apa yang kami perlukan.

“Tujuh ratus ribu,” sahut si abang, seolah-olah mengoyak keramahan yang ia tampilkan selama 2-3 menit pertama kita berbincang. Atau, seperti yang dikatakan oleh seorang teman ketika kuceritakan tadi sore, “itu biaya untuk keramah-tamahan dia.” Ternyata ramah itu ada premiumnya ya… Kirain on-time delivery doang yang ada premiumnya.

Jadilah akhirnya Rakha menemukan seorang pelukis baik hati & sedang tak memerlukan uang terlalu banyak. Akhirnya harga yang disepakati kira-kira sepertiga harga yang pertama. Hujan turut menemani proses tawar-menawar, perancangan konsep & pencapaian kata sepakat. Crrrr…..crrrrr…….crrrrrr…… “kalau gini gimana mas?” crrr…..crrr….crrr… “bagus tuh, lucu juga kalau begitu,” crr……crrr……crrrrrr….. “yaudah, kalau gitu saya DP seratus limapuluh dulu ya,” crrrr…..crrrrr……crrrr….

Hujan sepertinya tak menghendaki kami pulang cepat. Jadilah akhirnya kita terus ngobrol kesana-kemari sambil nunggu hujan reda. [Ketika menulis bagian ini (bagian ini ditulis agak di akhir, setelah bagian-bagian lainnya selesai ditulis), saya meniatkan diri untuk memfoto si abang agar dapat saya unggah di episode berikutnya.] Topik yang dicakup antara lain latar belakang si abang, perikehidupannya, & beberapa teknik menggambar.

Update akhir Rabu 11/1/2012:

#1 – Tumbler & gambar untuk sisi dalamnya sudah jadi! Yippeee, trims untuk Rama!

#2 – Pelukis Ā karikatur sudah didapat, harga sudah ditawar & barang sudah dipesan [+ DP malah] untuk selesai pada hari Kamis 12/1. Terserah si abang, apa dia mau pake jurus apa, yang penting besok pagi waktu gw paranin lukisannya udah jadi.

Jadi, pembaca yang budiman, untuk mengetahui kesudahan episode kado perpisahan ini, tunggu postingan saya yang berikutnya.

Advertisements

One Comment

  1. THANK YOU, susah juga rasanya ambil ke putusan itu , tapi keputusan itu adalah jawaban dari DOA yg setiap saat dipanjatkan untuk mendapatkan yang lebih baik lagi untuk keluargaku, selain pengalaman baru dan network yang baru saya juga merasa tertantang akan hal2 yang baru. Saudaraku Hanif, kesuksesan itu berada dibalik ketakutan dimana sebenarnya masih banyak jalan di luar sana yang lebih baik.

    alasan lain karena : saya tidak ingin bekerja untuk Yahudi lagi dimana hal itu tdk dilakukan oleh Rasul kita. hehehehe… plus nekat.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: