Skip navigation

Category Archives: kehidupan

potret dan gambaran kehidupan.

Having been unable to write, not having ideas, just came back from Mars, on a hiatus for some time (four months if I’m not mistaken), I’ve been thinking of what can I share with you guys. What is it that I can share through this blog of mine? This is quite an irony in itself, because I write for a living.

Could it be that I’ve put every ounce of my writing skills on making a living that I have nothing left for non-living non professional matters? Or is it that since [major premise] writing is a cognitive process and [minor premise] I don’t face that much difficulties upon professional writing, am I only starting to think now, and that I don’t think that much during work hours [conclusion]? Eureka! That’s it. So navigating through my issue using syllogism, I find that I actually am a problem rather than a victim of the problem.

Oh yeah. (I think I just committed a credibility suicide)

So, anyway, to compensate for your three-five minutes of going through this cognitive-existentialisme gobbledegock, I present you with a short guide on how to cold-brew coffee. Cold brews are the building blocks of the ice-based coffees usually served at your favourite coffee shops. Cold-brewing coffee is basically, if I can rip a page from Operations Management, a Make-To-Stock technique, rather than a Make-To-Order, since it takes time to get it brewed. But mastering how to brew it, and add to it your signature mix (I usually blend it with avocados), you’ll at least get to save yourself several Rupiahs or Dollars or whatever currency your government issues by not having to run across the road to **NAME OF PREFERRED COFFEESHOP**.

Before starting, prepare the following:

1 – The coffee (of course, thanks for mentioning the obvious).

2 – A jar capable of holding several glasses of water (naturally, since it takes time to get it, you’d want to be able to serve several glasses of it).

3- A sieve/strainer of whatever kind.

Here’s how:

1 – Mix your favourite brand of ground coffee with room temperature water (drinkable water that is) in a container. The ratio of tablespoons of coffee and cups of water should be about 1 tablespoon per cup. You can always add water if the brewed coffee is too strong for you.

2 – Stir the mixture until there are no lumps left, then leave the container in a room-temperature setting for several hours (during this time the brewing process takes place. I usually leave mine for about 12 hours, however my source says that three hours is enough to do the trick).

3 – When done, use a sieve/strainer to remove the ground coffee and store in another container (or the same container) & store in fridge. This is the base from which you serve your cold coffee.

Having completed that, you can serve them with condensed milk/ice cream, shake it up with avocadoes; you can even heat it up and serve it as hot coffee.

[Mental note to self: edit this post and provide pictures. Don’t wait for pictures, its been too darn long since the last post.]

Advertisements

26 Juni 2012.
Tahun ini saya mencoba mengambil peran tambahan di kantor, sebagai kontributor untuk buletin bulanan departemen saya. Bukan posisi yang menghasilkan secara finansial, tetapi dari sini saya bisa belajar & mengasah teknik menulis saya. “Gantinya mata kuliah penpop* yang waktu itu gak gw ambil,” pikirku setelah menyelesaikan kerjaan yang pertama.

Setidaknya, dua hal saya pelajari, dan insyaallah bisa diasah dari sini. Yang pertama kemampuan berbicara & menyimak dalam Bahasa Inggris. Setelah lulus dari FIB hampir2 belum ada kesempatan ngasah kemampuan bahasa secara ekstensif. Pergaulan dan pekerjaan, hampir semuanya berbahasa Indonesia. Kedua, menulis dalam Bahasa Inggris seperti layaknya orang sono. Semacam penulisan populer.

Karena ini materi kantor, jadi saya gak bisa pampang hasilnya di sini. Tapi di antara beberapa hal yang kusadari, antara lain Bahasa Inggris saya udah berantakan. Waktu mendengar rekamannya untuk membuat transkrip ingin rasanya memaki diri sendiri. Ternyata suara & gaya bicara saya mempermalukan diri sendiri. Addduh!

Sangat kentara, hampir semua kata2 saya memuat ‘umm’, ‘yaaa’, dan yang lebih memalukan lagi: ‘………….’. Singkat kata, untuk tiap dua-tiga paragraf yang disampaikan oleh responden, jawaban saya kurang lebih gini, “okeh, …………, ummm, …… very, very interesting. now could you, ummhh, ….., …… so how do you manage?” KRAM OTAK! Keinginan hati tidak didukung oleh kemampuan processing otak.

Tapi, sepertinya inilah kesempatan untuk belajar lagi. Caranya? Dengan semi-memaksa diri sendiri. Dengan menceburkan diri ke dalam situasi yang memaksa. Yah, begitulah.

27 Juni 2012
Karena mau cuti tgl 28-29, malem ini gw masih nyelesaiin kerjaan supaya bisa cuti secara bertanggung jawab. Jadilah gw 2 hari ini pulang lebih larut.

Satu hal yang cukup penting kalau pulang malam adalah makan malam (ya iyalah, pulang malam dalam kondisi lapar sih kayak romusha!). Dan makan malam sendirian itu kurang asyik sebenarnya. Kalau kepepet makan sendirian, biasanya fitur2 di bb jadi temen. Foto makanan & minuman, jadiin PP, posting di FB, atau kirim ke orang lain. Masalah biasanya muncul kalau paket BIS terganggu, seperti sehari ini.

Tapi, dalam rangka melihat hal-hal positif, dengan adanya gangguan ini gw jadi bisa nulis postingan ini. Kalau topik tanggal 26 kemarin adalah mengasah kembali Bahasa Inggris, mungkin topik implisit hari ini adalah mengasah penulisan dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris v. Bahasa Indonesia. Bahasa populer vs. bahasa nasional. Yang satu hampir tiap hari kita terima dalam media populer, yang satu seperti hidup segan mati tak mau. Jalan utk menjadikan Bahasa Indonesia lebih populis juga tampaknya masih banyak menghadapi kendala. Bahasa Inggris, dengan pelbagi intriknya, tetap dapat dikonsumsi. Mungkin karena banyaknya opsi dan alternatif kata & ungkapan. Seperti ‘buy’, ‘purchase’, ‘procure’, acquire’. Atau ‘secure’, ‘safeguard’, ‘protect’. Entah kenapa, dalam pilihan diksi Bahasa Indonesia sepertinya padanan untuk yang pertama hanyalah ‘beli/membeli’, dan ‘menjaga/melindungi’ untuk yang kedua. Apa memang seperti itu?

Sejatinya, tesaurus-tesaurus Bahasa Indonesia menjawab permasalahan ini. Terdapat beberapa alternatif diksi untuk hampir semua kata. Hanya saja, satu-satunya penghalang adalah kelaziman pemakaian. Seberapa lazim kita dengan berbagai kosakata Bahasa Indonesia yang kurang lazim? Saya kira tidak terlalu. Mestinya ini jadi postingan baru, saya kira, jadi untuk sementara saya sudahi di sini.

NB: udah ada 10 posting di ni blog!!!

10 posting cuy! Nantikan banyak posting lagi setelah ini.

*penpop: Mata Kuliah Penulisan Populer, gaya penulisan populer seperti di cerpen, novel, dan karya-karya non-ilmiah lainnya. Kebalikannya penulisan ilmiah.

Janji adalah hutang.

Saya sudah berjanji akan menceritakan akhir dari pengurusan perpisahan ini.

Maka itu, saya pun berusaha keras mendorong diri saya agar masuk ke dalam mode menulis. Kegiatannya sendiri selesai pada hari Kamis. Jumat belum dapat ide. Sabtu, saya mencoba-coba cari ide sambil jalan-jalan ke GI, setiabudi one & makan malam di Havenue. Minggu saya berusaha menulis. Tapi nihil hasilnya.

Kembali ke masalah pokok, seperti yang saya katakan kemarin, lukisan karikaturnya kami pesan di sekitar jalan veteran, di kios mas meshadi. Ternyata dia sanggup menyelesaikannya sebagaimana yang ia janjikan, Kamis pagi, jam 9(an). Karena KRL penuh,  ia baru sampai di kios sekitar jam 9:30. Ketika saya sampai, ia sedang  memberikan sentuhan akhir pada karikaturnya. Semua unsur yang diminta ternyata dapat diakomodasi. Satu-satunya kekurangan adalah ternyata foto yang saya berikan ternyata adalah foto beberapa tahun silam, ketika kawan saya yang hendak pindah itu masih (agak) lebih muda. “Pak, orangnya udah sedikit lebih tua sekarang. Bisa dibuat terlihat nggak di lukisannya?” Ternyata bisa. sret-sret ksek-ksek-ksek, kompleksitas kulit di sekitar dahi & pipi menjadi agak lebih terlihat. Tapi tetap saja masih agak kemudaan. Tapi apa hendak dikata, waktu sudah mepet.

[masukin foto pak meshadi di sini]

sentuhan akhir

"kerutan di dahi jangan kelupaan ya mas."

Singkat cerita, setelah berjuang melewati demonstrasi yang berlangsung di depan Istana Negara pada hari itu, akhirnya lukisan diserahkan juga.

[masukin poto rame-rame di sini]

awet muda, meskipun hanya di foto

Saya bukan orang yang senang dengan perpisahan. Saya juga bukan orang yang jago memilih & mencari kado untuk orang lain. Selama ini, kado yang paling sering saya berikan kepada orang adalah buku, minyak wangi & peci. Konteksnya pun lazimnya adalah selain masalah perpisahan.

Maka itu, begitu teman kantor saya resmi mengatakan kalau dia akan pindah (setelah 15 tahun), saya pun merasa gimana gitu. Sesudah pengumuman, saya berbicara dengan kawan-kawan tentang apa hadiah yang mungkin tepat untuk diberikan. Ada yang mengusulkan kaos, gelas, lukisan karikatur, lukisan mosaik, dll. “Yaudah nif, lu yang urusin yak,” kata teman-teman; jadilah saya merasa gimana gitu secara dobel.

Kita memutuskan untuk memberikan 2 hadiah, 1 gelas dan 1 lukisan. Untuk gelas, kita memilih gelas yang dapat dikustomisasi, agar ada unsur nostalgianya. “Tumbler aja, Nif. Yang dalamnya bisa diganti. Nanti kita masukin foto atau ucapan apa gitu,” usul seorang kawan yang meminta namanya dirahasiakan. Sebagai penanggung jawab yang baik, saya menerima saran dari orang yang lebih berpengalaman. Untuk lukisan, “gua pernah lihat di **masukkan nama gerai foto modern**, di sana bisa buat foto orang yang terdiri dari foto-foto yang lebih kecil. Semacam mosaik, gitu,” seorang kawan lain mengajukan usulnya. “OK, bagus juga tuh, bolehlah kita coba.”

Status per hari Selasa 10/1/2012

#1 – Tumbler starbucks….dapet!

#2 – Foto untuk dimasukkin ke tumbler…belum 😦

#3 – Foto-foto jadul untuk dibuat dalam mosaik/lukisan/foto banner (apa itu istilah yang tepat?)….35

#4 – Ada masukan untuk membuat karikatur saja ketimbang foto mosaik…..konflik dengan poin #3 di atas. arggghhhhh!

Akhirnya kita memilih karikatur daripada mosaik.

Agenda untuk Hari Rabu: Cari, tawar & pesan karikatur untuk diberikan pada hari Kamis.

Rabu pagi, akhirnya saya dan Rakha berangkat ke Lapangan Banteng dengan semangat Auld Lang Syne, “untuk kawan.” Jam 11 pagi lewat dikit kami sampai di satu kios. Langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Rakha menyampaikan apa yang kami perlukan.

“Tujuh ratus ribu,” sahut si abang, seolah-olah mengoyak keramahan yang ia tampilkan selama 2-3 menit pertama kita berbincang. Atau, seperti yang dikatakan oleh seorang teman ketika kuceritakan tadi sore, “itu biaya untuk keramah-tamahan dia.” Ternyata ramah itu ada premiumnya ya… Kirain on-time delivery doang yang ada premiumnya.

Jadilah akhirnya Rakha menemukan seorang pelukis baik hati & sedang tak memerlukan uang terlalu banyak. Akhirnya harga yang disepakati kira-kira sepertiga harga yang pertama. Hujan turut menemani proses tawar-menawar, perancangan konsep & pencapaian kata sepakat. Crrrr…..crrrrr…….crrrrrr…… “kalau gini gimana mas?” crrr…..crrr….crrr… “bagus tuh, lucu juga kalau begitu,” crr……crrr……crrrrrr….. “yaudah, kalau gitu saya DP seratus limapuluh dulu ya,” crrrr…..crrrrr……crrrr….

Hujan sepertinya tak menghendaki kami pulang cepat. Jadilah akhirnya kita terus ngobrol kesana-kemari sambil nunggu hujan reda. [Ketika menulis bagian ini (bagian ini ditulis agak di akhir, setelah bagian-bagian lainnya selesai ditulis), saya meniatkan diri untuk memfoto si abang agar dapat saya unggah di episode berikutnya.] Topik yang dicakup antara lain latar belakang si abang, perikehidupannya, & beberapa teknik menggambar.

Update akhir Rabu 11/1/2012:

#1 – Tumbler & gambar untuk sisi dalamnya sudah jadi! Yippeee, trims untuk Rama!

#2 – Pelukis  karikatur sudah didapat, harga sudah ditawar & barang sudah dipesan [+ DP malah] untuk selesai pada hari Kamis 12/1. Terserah si abang, apa dia mau pake jurus apa, yang penting besok pagi waktu gw paranin lukisannya udah jadi.

Jadi, pembaca yang budiman, untuk mengetahui kesudahan episode kado perpisahan ini, tunggu postingan saya yang berikutnya.

aab, ilham, nizar (MC)

ki-ka: aab, ilham, nizar (MC)