Skip navigation

Tag Archives: perpisahan

Janji adalah hutang.

Saya sudah berjanji akan menceritakan akhir dari pengurusan perpisahan ini.

Maka itu, saya pun berusaha keras mendorong diri saya agar masuk ke dalam mode menulis. Kegiatannya sendiri selesai pada hari Kamis. Jumat belum dapat ide. Sabtu, saya mencoba-coba cari ide sambil jalan-jalan ke GI, setiabudi one & makan malam di Havenue. Minggu saya berusaha menulis. Tapi nihil hasilnya.

Kembali ke masalah pokok, seperti yang saya katakan kemarin, lukisan karikaturnya kami pesan di sekitar jalan veteran, di kios mas meshadi. Ternyata dia sanggup menyelesaikannya sebagaimana yang ia janjikan, Kamis pagi, jam 9(an). Karena KRL penuh,  ia baru sampai di kios sekitar jam 9:30. Ketika saya sampai, ia sedang  memberikan sentuhan akhir pada karikaturnya. Semua unsur yang diminta ternyata dapat diakomodasi. Satu-satunya kekurangan adalah ternyata foto yang saya berikan ternyata adalah foto beberapa tahun silam, ketika kawan saya yang hendak pindah itu masih (agak) lebih muda. “Pak, orangnya udah sedikit lebih tua sekarang. Bisa dibuat terlihat nggak di lukisannya?” Ternyata bisa. sret-sret ksek-ksek-ksek, kompleksitas kulit di sekitar dahi & pipi menjadi agak lebih terlihat. Tapi tetap saja masih agak kemudaan. Tapi apa hendak dikata, waktu sudah mepet.

[masukin foto pak meshadi di sini]

sentuhan akhir

"kerutan di dahi jangan kelupaan ya mas."

Singkat cerita, setelah berjuang melewati demonstrasi yang berlangsung di depan Istana Negara pada hari itu, akhirnya lukisan diserahkan juga.

[masukin poto rame-rame di sini]

awet muda, meskipun hanya di foto

Advertisements

Saya bukan orang yang senang dengan perpisahan. Saya juga bukan orang yang jago memilih & mencari kado untuk orang lain. Selama ini, kado yang paling sering saya berikan kepada orang adalah buku, minyak wangi & peci. Konteksnya pun lazimnya adalah selain masalah perpisahan.

Maka itu, begitu teman kantor saya resmi mengatakan kalau dia akan pindah (setelah 15 tahun), saya pun merasa gimana gitu. Sesudah pengumuman, saya berbicara dengan kawan-kawan tentang apa hadiah yang mungkin tepat untuk diberikan. Ada yang mengusulkan kaos, gelas, lukisan karikatur, lukisan mosaik, dll. “Yaudah nif, lu yang urusin yak,” kata teman-teman; jadilah saya merasa gimana gitu secara dobel.

Kita memutuskan untuk memberikan 2 hadiah, 1 gelas dan 1 lukisan. Untuk gelas, kita memilih gelas yang dapat dikustomisasi, agar ada unsur nostalgianya. “Tumbler aja, Nif. Yang dalamnya bisa diganti. Nanti kita masukin foto atau ucapan apa gitu,” usul seorang kawan yang meminta namanya dirahasiakan. Sebagai penanggung jawab yang baik, saya menerima saran dari orang yang lebih berpengalaman. Untuk lukisan, “gua pernah lihat di **masukkan nama gerai foto modern**, di sana bisa buat foto orang yang terdiri dari foto-foto yang lebih kecil. Semacam mosaik, gitu,” seorang kawan lain mengajukan usulnya. “OK, bagus juga tuh, bolehlah kita coba.”

Status per hari Selasa 10/1/2012

#1 – Tumbler starbucks….dapet!

#2 – Foto untuk dimasukkin ke tumbler…belum 😦

#3 – Foto-foto jadul untuk dibuat dalam mosaik/lukisan/foto banner (apa itu istilah yang tepat?)….35

#4 – Ada masukan untuk membuat karikatur saja ketimbang foto mosaik…..konflik dengan poin #3 di atas. arggghhhhh!

Akhirnya kita memilih karikatur daripada mosaik.

Agenda untuk Hari Rabu: Cari, tawar & pesan karikatur untuk diberikan pada hari Kamis.

Rabu pagi, akhirnya saya dan Rakha berangkat ke Lapangan Banteng dengan semangat Auld Lang Syne, “untuk kawan.” Jam 11 pagi lewat dikit kami sampai di satu kios. Langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Rakha menyampaikan apa yang kami perlukan.

“Tujuh ratus ribu,” sahut si abang, seolah-olah mengoyak keramahan yang ia tampilkan selama 2-3 menit pertama kita berbincang. Atau, seperti yang dikatakan oleh seorang teman ketika kuceritakan tadi sore, “itu biaya untuk keramah-tamahan dia.” Ternyata ramah itu ada premiumnya ya… Kirain on-time delivery doang yang ada premiumnya.

Jadilah akhirnya Rakha menemukan seorang pelukis baik hati & sedang tak memerlukan uang terlalu banyak. Akhirnya harga yang disepakati kira-kira sepertiga harga yang pertama. Hujan turut menemani proses tawar-menawar, perancangan konsep & pencapaian kata sepakat. Crrrr…..crrrrr…….crrrrrr…… “kalau gini gimana mas?” crrr…..crrr….crrr… “bagus tuh, lucu juga kalau begitu,” crr……crrr……crrrrrr….. “yaudah, kalau gitu saya DP seratus limapuluh dulu ya,” crrrr…..crrrrr……crrrr….

Hujan sepertinya tak menghendaki kami pulang cepat. Jadilah akhirnya kita terus ngobrol kesana-kemari sambil nunggu hujan reda. [Ketika menulis bagian ini (bagian ini ditulis agak di akhir, setelah bagian-bagian lainnya selesai ditulis), saya meniatkan diri untuk memfoto si abang agar dapat saya unggah di episode berikutnya.] Topik yang dicakup antara lain latar belakang si abang, perikehidupannya, & beberapa teknik menggambar.

Update akhir Rabu 11/1/2012:

#1 – Tumbler & gambar untuk sisi dalamnya sudah jadi! Yippeee, trims untuk Rama!

#2 – Pelukis  karikatur sudah didapat, harga sudah ditawar & barang sudah dipesan [+ DP malah] untuk selesai pada hari Kamis 12/1. Terserah si abang, apa dia mau pake jurus apa, yang penting besok pagi waktu gw paranin lukisannya udah jadi.

Jadi, pembaca yang budiman, untuk mengetahui kesudahan episode kado perpisahan ini, tunggu postingan saya yang berikutnya.