Skip navigation

Tag Archives: tulis-menulis

No, that is not Alfred’s line. The dialogue in which Alfred’s line lies in (from Batman Begins, 2005), is this:

Bruce Wayne: I wanted to save Gotham. I’ve failed.

Alfred: Why do we fall, sir? So that we can learn to pick ourselves up.

Bruce: You still haven’t given up on me?

Alfred: Never.

So back to the quetsion, why do we blog?

[Would like to discuss the trilogy, as it is up there in my list of favourite trilogies. Maybe one day.]

This question first came to me when I was, well,I forgot what was I doing back then, but it came as a good idea to be written as a discourse.

Writting, be it handwriting or typing (the discussion of which is provided here), is a form of expression. While speaking may be more spontaneous, direct, and invites direct feedback, writing involves more planning and thinking beforehand, is less spontaneous, indirect and invites less direct feedback.

As for me, blogging provides the space to jot down my thoughts, expressions, concerns, (the list goes on), which I could not say in public. Or which I’ve said in public and want to immortalize it by sending it to the Net. Thus, it serves for me like what the hieroglyphs did for the ancient Egyptians. The downside to it might be that several generations from now people from all around the world would admire it but not understand a word of it, except for a tiny bit of people who are willing to put in a lot just to know about it.

Anyway, both are great with a cup of coffee or tea, so it is a rather mutualistic way to justify having additional cups of coffee and spending more time on the Internet.

Oh well. Said that.

So, why do we blog?

26 Juni 2012.
Tahun ini saya mencoba mengambil peran tambahan di kantor, sebagai kontributor untuk buletin bulanan departemen saya. Bukan posisi yang menghasilkan secara finansial, tetapi dari sini saya bisa belajar & mengasah teknik menulis saya. “Gantinya mata kuliah penpop* yang waktu itu gak gw ambil,” pikirku setelah menyelesaikan kerjaan yang pertama.

Setidaknya, dua hal saya pelajari, dan insyaallah bisa diasah dari sini. Yang pertama kemampuan berbicara & menyimak dalam Bahasa Inggris. Setelah lulus dari FIB hampir2 belum ada kesempatan ngasah kemampuan bahasa secara ekstensif. Pergaulan dan pekerjaan, hampir semuanya berbahasa Indonesia. Kedua, menulis dalam Bahasa Inggris seperti layaknya orang sono. Semacam penulisan populer.

Karena ini materi kantor, jadi saya gak bisa pampang hasilnya di sini. Tapi di antara beberapa hal yang kusadari, antara lain Bahasa Inggris saya udah berantakan. Waktu mendengar rekamannya untuk membuat transkrip ingin rasanya memaki diri sendiri. Ternyata suara & gaya bicara saya mempermalukan diri sendiri. Addduh!

Sangat kentara, hampir semua kata2 saya memuat ‘umm’, ‘yaaa’, dan yang lebih memalukan lagi: ‘………….’. Singkat kata, untuk tiap dua-tiga paragraf yang disampaikan oleh responden, jawaban saya kurang lebih gini, “okeh, …………, ummm, …… very, very interesting. now could you, ummhh, ….., …… so how do you manage?” KRAM OTAK! Keinginan hati tidak didukung oleh kemampuan processing otak.

Tapi, sepertinya inilah kesempatan untuk belajar lagi. Caranya? Dengan semi-memaksa diri sendiri. Dengan menceburkan diri ke dalam situasi yang memaksa. Yah, begitulah.

27 Juni 2012
Karena mau cuti tgl 28-29, malem ini gw masih nyelesaiin kerjaan supaya bisa cuti secara bertanggung jawab. Jadilah gw 2 hari ini pulang lebih larut.

Satu hal yang cukup penting kalau pulang malam adalah makan malam (ya iyalah, pulang malam dalam kondisi lapar sih kayak romusha!). Dan makan malam sendirian itu kurang asyik sebenarnya. Kalau kepepet makan sendirian, biasanya fitur2 di bb jadi temen. Foto makanan & minuman, jadiin PP, posting di FB, atau kirim ke orang lain. Masalah biasanya muncul kalau paket BIS terganggu, seperti sehari ini.

Tapi, dalam rangka melihat hal-hal positif, dengan adanya gangguan ini gw jadi bisa nulis postingan ini. Kalau topik tanggal 26 kemarin adalah mengasah kembali Bahasa Inggris, mungkin topik implisit hari ini adalah mengasah penulisan dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris v. Bahasa Indonesia. Bahasa populer vs. bahasa nasional. Yang satu hampir tiap hari kita terima dalam media populer, yang satu seperti hidup segan mati tak mau. Jalan utk menjadikan Bahasa Indonesia lebih populis juga tampaknya masih banyak menghadapi kendala. Bahasa Inggris, dengan pelbagi intriknya, tetap dapat dikonsumsi. Mungkin karena banyaknya opsi dan alternatif kata & ungkapan. Seperti ‘buy’, ‘purchase’, ‘procure’, acquire’. Atau ‘secure’, ‘safeguard’, ‘protect’. Entah kenapa, dalam pilihan diksi Bahasa Indonesia sepertinya padanan untuk yang pertama hanyalah ‘beli/membeli’, dan ‘menjaga/melindungi’ untuk yang kedua. Apa memang seperti itu?

Sejatinya, tesaurus-tesaurus Bahasa Indonesia menjawab permasalahan ini. Terdapat beberapa alternatif diksi untuk hampir semua kata. Hanya saja, satu-satunya penghalang adalah kelaziman pemakaian. Seberapa lazim kita dengan berbagai kosakata Bahasa Indonesia yang kurang lazim? Saya kira tidak terlalu. Mestinya ini jadi postingan baru, saya kira, jadi untuk sementara saya sudahi di sini.

NB: udah ada 10 posting di ni blog!!!

10 posting cuy! Nantikan banyak posting lagi setelah ini.

*penpop: Mata Kuliah Penulisan Populer, gaya penulisan populer seperti di cerpen, novel, dan karya-karya non-ilmiah lainnya. Kebalikannya penulisan ilmiah.