Skip navigation

EN:

It’s almost been a year since I last posted.

Lot’s of things happened in 2013 which either directly or indirectly hindered me from writing. A colleague passed away, a sudden surge in workload, as well as other events have hampered the writing process of your’s truly. Luckily, abduction by extra-terrestrial beings was not one of them.

In self defense, it’s not that I didn’t try writing. I have got several things up my sleeve, written on my phone while commuting on the train, or jotted down on my notebook or pieces of paper when I wanted to see how my handwriting is nowadays.

I really, really, really hope I get the time to share what I’ve written down in the past, ranging from the Pet Shop Boy’s gig in Jakarta to an obituary to a colleague, as well as write down new stuff.

In short, happy new year (dude, this is almost March already!).

ID:

Sudah hampir setahun sejak terakhir saya ngepost.

Banyak hal yang terjadi di 2013 yang menghambat proses penulisan saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari meninggalnya seorang teman di kantor, melonjaknya beban kerja, dan kejadian-kejadian lain-lain yang menghambat proses penulisan. Untungnya, diculik makhluk luar angkasa tidak termasuk di antaranya.

Sebagai pledoi, saya bukannya nggak nulis sama sekali. Ada beberapa kuncian yang sudah kukembangkan, mulai dari yang ditulis di KRL sembari berangkat/pulang kantor, atau yang kutulis di buku catatan/lembaran kertas (sekaligus untuk tahu seperti apa tulisan tangan saya sekarang ini).

Gua berharap banget, banget, banget bisa sempat berbagi tulisan-tulisan yang udah kutulis, berkisar dari datangnya Pet Shop Boys ke Jakarta sampai prosa untuk seorang kolega, dan tentunya nulis hal-hal baru juga.

Singkat kata, selamat tahun baru 2014 (gile, ini udah mau masuk Maret!!).

 

this is your's truly on the weekend and on the start of every weekday.

This is your’s truly on the weekend and on the start of every weekday. No wonder no progress within the past 8-9 months.

 

No, that is not Alfred’s line. The dialogue in which Alfred’s line lies in (from Batman Begins, 2005), is this:

Bruce Wayne: I wanted to save Gotham. I’ve failed.

Alfred: Why do we fall, sir? So that we can learn to pick ourselves up.

Bruce: You still haven’t given up on me?

Alfred: Never.

So back to the quetsion, why do we blog?

[Would like to discuss the trilogy, as it is up there in my list of favourite trilogies. Maybe one day.]

This question first came to me when I was, well,I forgot what was I doing back then, but it came as a good idea to be written as a discourse.

Writting, be it handwriting or typing (the discussion of which is provided here), is a form of expression. While speaking may be more spontaneous, direct, and invites direct feedback, writing involves more planning and thinking beforehand, is less spontaneous, indirect and invites less direct feedback.

As for me, blogging provides the space to jot down my thoughts, expressions, concerns, (the list goes on), which I could not say in public. Or which I’ve said in public and want to immortalize it by sending it to the Net. Thus, it serves for me like what the hieroglyphs did for the ancient Egyptians. The downside to it might be that several generations from now people from all around the world would admire it but not understand a word of it, except for a tiny bit of people who are willing to put in a lot just to know about it.

Anyway, both are great with a cup of coffee or tea, so it is a rather mutualistic way to justify having additional cups of coffee and spending more time on the Internet.

Oh well. Said that.

So, why do we blog?

Having been unable to write, not having ideas, just came back from Mars, on a hiatus for some time (four months if I’m not mistaken), I’ve been thinking of what can I share with you guys. What is it that I can share through this blog of mine? This is quite an irony in itself, because I write for a living.

Could it be that I’ve put every ounce of my writing skills on making a living that I have nothing left for non-living non professional matters? Or is it that since [major premise] writing is a cognitive process and [minor premise] I don’t face that much difficulties upon professional writing, am I only starting to think now, and that I don’t think that much during work hours [conclusion]? Eureka! That’s it. So navigating through my issue using syllogism, I find that I actually am a problem rather than a victim of the problem.

Oh yeah. (I think I just committed a credibility suicide)

So, anyway, to compensate for your three-five minutes of going through this cognitive-existentialisme gobbledegock, I present you with a short guide on how to cold-brew coffee. Cold brews are the building blocks of the ice-based coffees usually served at your favourite coffee shops. Cold-brewing coffee is basically, if I can rip a page from Operations Management, a Make-To-Stock technique, rather than a Make-To-Order, since it takes time to get it brewed. But mastering how to brew it, and add to it your signature mix (I usually blend it with avocados), you’ll at least get to save yourself several Rupiahs or Dollars or whatever currency your government issues by not having to run across the road to **NAME OF PREFERRED COFFEESHOP**.

Before starting, prepare the following:

1 – The coffee (of course, thanks for mentioning the obvious).

2 – A jar capable of holding several glasses of water (naturally, since it takes time to get it, you’d want to be able to serve several glasses of it).

3- A sieve/strainer of whatever kind.

Here’s how:

1 – Mix your favourite brand of ground coffee with room temperature water (drinkable water that is) in a container. The ratio of tablespoons of coffee and cups of water should be about 1 tablespoon per cup. You can always add water if the brewed coffee is too strong for you.

2 – Stir the mixture until there are no lumps left, then leave the container in a room-temperature setting for several hours (during this time the brewing process takes place. I usually leave mine for about 12 hours, however my source says that three hours is enough to do the trick).

3 – When done, use a sieve/strainer to remove the ground coffee and store in another container (or the same container) & store in fridge. This is the base from which you serve your cold coffee.

Having completed that, you can serve them with condensed milk/ice cream, shake it up with avocadoes; you can even heat it up and serve it as hot coffee.

[Mental note to self: edit this post and provide pictures. Don’t wait for pictures, its been too darn long since the last post.]

26 Juni 2012.
Tahun ini saya mencoba mengambil peran tambahan di kantor, sebagai kontributor untuk buletin bulanan departemen saya. Bukan posisi yang menghasilkan secara finansial, tetapi dari sini saya bisa belajar & mengasah teknik menulis saya. “Gantinya mata kuliah penpop* yang waktu itu gak gw ambil,” pikirku setelah menyelesaikan kerjaan yang pertama.

Setidaknya, dua hal saya pelajari, dan insyaallah bisa diasah dari sini. Yang pertama kemampuan berbicara & menyimak dalam Bahasa Inggris. Setelah lulus dari FIB hampir2 belum ada kesempatan ngasah kemampuan bahasa secara ekstensif. Pergaulan dan pekerjaan, hampir semuanya berbahasa Indonesia. Kedua, menulis dalam Bahasa Inggris seperti layaknya orang sono. Semacam penulisan populer.

Karena ini materi kantor, jadi saya gak bisa pampang hasilnya di sini. Tapi di antara beberapa hal yang kusadari, antara lain Bahasa Inggris saya udah berantakan. Waktu mendengar rekamannya untuk membuat transkrip ingin rasanya memaki diri sendiri. Ternyata suara & gaya bicara saya mempermalukan diri sendiri. Addduh!

Sangat kentara, hampir semua kata2 saya memuat ‘umm’, ‘yaaa’, dan yang lebih memalukan lagi: ‘………….’. Singkat kata, untuk tiap dua-tiga paragraf yang disampaikan oleh responden, jawaban saya kurang lebih gini, “okeh, …………, ummm, …… very, very interesting. now could you, ummhh, ….., …… so how do you manage?” KRAM OTAK! Keinginan hati tidak didukung oleh kemampuan processing otak.

Tapi, sepertinya inilah kesempatan untuk belajar lagi. Caranya? Dengan semi-memaksa diri sendiri. Dengan menceburkan diri ke dalam situasi yang memaksa. Yah, begitulah.

27 Juni 2012
Karena mau cuti tgl 28-29, malem ini gw masih nyelesaiin kerjaan supaya bisa cuti secara bertanggung jawab. Jadilah gw 2 hari ini pulang lebih larut.

Satu hal yang cukup penting kalau pulang malam adalah makan malam (ya iyalah, pulang malam dalam kondisi lapar sih kayak romusha!). Dan makan malam sendirian itu kurang asyik sebenarnya. Kalau kepepet makan sendirian, biasanya fitur2 di bb jadi temen. Foto makanan & minuman, jadiin PP, posting di FB, atau kirim ke orang lain. Masalah biasanya muncul kalau paket BIS terganggu, seperti sehari ini.

Tapi, dalam rangka melihat hal-hal positif, dengan adanya gangguan ini gw jadi bisa nulis postingan ini. Kalau topik tanggal 26 kemarin adalah mengasah kembali Bahasa Inggris, mungkin topik implisit hari ini adalah mengasah penulisan dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris v. Bahasa Indonesia. Bahasa populer vs. bahasa nasional. Yang satu hampir tiap hari kita terima dalam media populer, yang satu seperti hidup segan mati tak mau. Jalan utk menjadikan Bahasa Indonesia lebih populis juga tampaknya masih banyak menghadapi kendala. Bahasa Inggris, dengan pelbagi intriknya, tetap dapat dikonsumsi. Mungkin karena banyaknya opsi dan alternatif kata & ungkapan. Seperti ‘buy’, ‘purchase’, ‘procure’, acquire’. Atau ‘secure’, ‘safeguard’, ‘protect’. Entah kenapa, dalam pilihan diksi Bahasa Indonesia sepertinya padanan untuk yang pertama hanyalah ‘beli/membeli’, dan ‘menjaga/melindungi’ untuk yang kedua. Apa memang seperti itu?

Sejatinya, tesaurus-tesaurus Bahasa Indonesia menjawab permasalahan ini. Terdapat beberapa alternatif diksi untuk hampir semua kata. Hanya saja, satu-satunya penghalang adalah kelaziman pemakaian. Seberapa lazim kita dengan berbagai kosakata Bahasa Indonesia yang kurang lazim? Saya kira tidak terlalu. Mestinya ini jadi postingan baru, saya kira, jadi untuk sementara saya sudahi di sini.

NB: udah ada 10 posting di ni blog!!!

10 posting cuy! Nantikan banyak posting lagi setelah ini.

*penpop: Mata Kuliah Penulisan Populer, gaya penulisan populer seperti di cerpen, novel, dan karya-karya non-ilmiah lainnya. Kebalikannya penulisan ilmiah.

bo·san a sudah tidak suka lagi krn sudah terlalu sering atau banyak; jemu*

Je·nuh a 1 jemu; bosan: mereka sudah — dng pekerjaan yg selalu sama sepanjang tahun; *

Kedua adjektiva  ini sering mendatangi kita, tanpa kenal jam atau hari. Dan saya bukan pengecualian.

Di kantor, ada beberapa spot yang terkadang saya tongkrongi kala bosan berkunjung. Salah satunya adalah ruang istirahat lantai 17. Tempat ini cukup oke karena dari jendelanya kita bisa melihat sebagian sisi timur, utara dan barat Jakarta. Kalau cuaca cukup bagus, Teluk Jakarta terlihat dari sini. Di sudut Barat Jauh, ada satu gedung yang berdiri sendiri dengan gagahnya di tengah-tengah kekosongan, seperti istana kerajaan yang menjulang di tengah-tengah wilayah kekuasaannya. Tebakanku: Terminal II Bandara Soekarno-Hatta.

Masalahnya adalah, ternyata kamera tidak dapat mengakomodasi semua yang dipandang oleh mata.

Gedung di kiri dekat: Thamrin City, Gedung di kanan jauh: Taman Anggrek

Sisi utara Jl. MH. Thamrin (PI ke arah Sarinah). Seperti kata Obama, “(Sarinah) its now one of the shorter buildings.”

Inilah sekelumit pelarian saya. Gimana dengan Anda?

*: dari KBBI online: http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

Janji adalah hutang.

Saya sudah berjanji akan menceritakan akhir dari pengurusan perpisahan ini.

Maka itu, saya pun berusaha keras mendorong diri saya agar masuk ke dalam mode menulis. Kegiatannya sendiri selesai pada hari Kamis. Jumat belum dapat ide. Sabtu, saya mencoba-coba cari ide sambil jalan-jalan ke GI, setiabudi one & makan malam di Havenue. Minggu saya berusaha menulis. Tapi nihil hasilnya.

Kembali ke masalah pokok, seperti yang saya katakan kemarin, lukisan karikaturnya kami pesan di sekitar jalan veteran, di kios mas meshadi. Ternyata dia sanggup menyelesaikannya sebagaimana yang ia janjikan, Kamis pagi, jam 9(an). Karena KRL penuh,  ia baru sampai di kios sekitar jam 9:30. Ketika saya sampai, ia sedang  memberikan sentuhan akhir pada karikaturnya. Semua unsur yang diminta ternyata dapat diakomodasi. Satu-satunya kekurangan adalah ternyata foto yang saya berikan ternyata adalah foto beberapa tahun silam, ketika kawan saya yang hendak pindah itu masih (agak) lebih muda. “Pak, orangnya udah sedikit lebih tua sekarang. Bisa dibuat terlihat nggak di lukisannya?” Ternyata bisa. sret-sret ksek-ksek-ksek, kompleksitas kulit di sekitar dahi & pipi menjadi agak lebih terlihat. Tapi tetap saja masih agak kemudaan. Tapi apa hendak dikata, waktu sudah mepet.

[masukin foto pak meshadi di sini]

sentuhan akhir

"kerutan di dahi jangan kelupaan ya mas."

Singkat cerita, setelah berjuang melewati demonstrasi yang berlangsung di depan Istana Negara pada hari itu, akhirnya lukisan diserahkan juga.

[masukin poto rame-rame di sini]

awet muda, meskipun hanya di foto

Saya bukan orang yang senang dengan perpisahan. Saya juga bukan orang yang jago memilih & mencari kado untuk orang lain. Selama ini, kado yang paling sering saya berikan kepada orang adalah buku, minyak wangi & peci. Konteksnya pun lazimnya adalah selain masalah perpisahan.

Maka itu, begitu teman kantor saya resmi mengatakan kalau dia akan pindah (setelah 15 tahun), saya pun merasa gimana gitu. Sesudah pengumuman, saya berbicara dengan kawan-kawan tentang apa hadiah yang mungkin tepat untuk diberikan. Ada yang mengusulkan kaos, gelas, lukisan karikatur, lukisan mosaik, dll. “Yaudah nif, lu yang urusin yak,” kata teman-teman; jadilah saya merasa gimana gitu secara dobel.

Kita memutuskan untuk memberikan 2 hadiah, 1 gelas dan 1 lukisan. Untuk gelas, kita memilih gelas yang dapat dikustomisasi, agar ada unsur nostalgianya. “Tumbler aja, Nif. Yang dalamnya bisa diganti. Nanti kita masukin foto atau ucapan apa gitu,” usul seorang kawan yang meminta namanya dirahasiakan. Sebagai penanggung jawab yang baik, saya menerima saran dari orang yang lebih berpengalaman. Untuk lukisan, “gua pernah lihat di **masukkan nama gerai foto modern**, di sana bisa buat foto orang yang terdiri dari foto-foto yang lebih kecil. Semacam mosaik, gitu,” seorang kawan lain mengajukan usulnya. “OK, bagus juga tuh, bolehlah kita coba.”

Status per hari Selasa 10/1/2012

#1 – Tumbler starbucks….dapet!

#2 – Foto untuk dimasukkin ke tumbler…belum😦

#3 – Foto-foto jadul untuk dibuat dalam mosaik/lukisan/foto banner (apa itu istilah yang tepat?)….35

#4 – Ada masukan untuk membuat karikatur saja ketimbang foto mosaik…..konflik dengan poin #3 di atas. arggghhhhh!

Akhirnya kita memilih karikatur daripada mosaik.

Agenda untuk Hari Rabu: Cari, tawar & pesan karikatur untuk diberikan pada hari Kamis.

Rabu pagi, akhirnya saya dan Rakha berangkat ke Lapangan Banteng dengan semangat Auld Lang Syne, “untuk kawan.” Jam 11 pagi lewat dikit kami sampai di satu kios. Langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Rakha menyampaikan apa yang kami perlukan.

“Tujuh ratus ribu,” sahut si abang, seolah-olah mengoyak keramahan yang ia tampilkan selama 2-3 menit pertama kita berbincang. Atau, seperti yang dikatakan oleh seorang teman ketika kuceritakan tadi sore, “itu biaya untuk keramah-tamahan dia.” Ternyata ramah itu ada premiumnya ya… Kirain on-time delivery doang yang ada premiumnya.

Jadilah akhirnya Rakha menemukan seorang pelukis baik hati & sedang tak memerlukan uang terlalu banyak. Akhirnya harga yang disepakati kira-kira sepertiga harga yang pertama. Hujan turut menemani proses tawar-menawar, perancangan konsep & pencapaian kata sepakat. Crrrr…..crrrrr…….crrrrrr…… “kalau gini gimana mas?” crrr…..crrr….crrr… “bagus tuh, lucu juga kalau begitu,” crr……crrr……crrrrrr….. “yaudah, kalau gitu saya DP seratus limapuluh dulu ya,” crrrr…..crrrrr……crrrr….

Hujan sepertinya tak menghendaki kami pulang cepat. Jadilah akhirnya kita terus ngobrol kesana-kemari sambil nunggu hujan reda. [Ketika menulis bagian ini (bagian ini ditulis agak di akhir, setelah bagian-bagian lainnya selesai ditulis), saya meniatkan diri untuk memfoto si abang agar dapat saya unggah di episode berikutnya.] Topik yang dicakup antara lain latar belakang si abang, perikehidupannya, & beberapa teknik menggambar.

Update akhir Rabu 11/1/2012:

#1 – Tumbler & gambar untuk sisi dalamnya sudah jadi! Yippeee, trims untuk Rama!

#2 – Pelukis  karikatur sudah didapat, harga sudah ditawar & barang sudah dipesan [+ DP malah] untuk selesai pada hari Kamis 12/1. Terserah si abang, apa dia mau pake jurus apa, yang penting besok pagi waktu gw paranin lukisannya udah jadi.

Jadi, pembaca yang budiman, untuk mengetahui kesudahan episode kado perpisahan ini, tunggu postingan saya yang berikutnya.

Beberapa hari terakhir ini beban kerja di kantor sedang mereda. Ketika sudah bingung mau merambah laman web manalagi, tiba-tiba saya teringat kalau saya pernah iseng-iseng nge-blog. Langsung saja saya coba sambangi blog saya. Nama blognya tetap saya ingat, tapi passwordnya tidak. Setelah berusaha keras menggali kembali ingatan yang sudah terkubur oleh skripsi & persidangannya serta masalah pekerjaan (dua penyedot daya memori terbesar), dan hal-hal lainnya, seperti nomer telepon si anu dan si fulan, sepertinya saya bakal perlu sewa ekskavator dari Trakindo untuk menggalinya lagi.

Tekan “forgot password”.

Tunggu e-mail konfirmasi.

Verifikasi akun & pembuatan password baru.

Hupla! sayapun kembali bisa ng-eblog.

Sebenarnya saya sempat beberapa kali nulis memakai fitur catatan di facebook. hanya saja, begitu facebook berubah format dan dibanjiri pengiklan-pengiklan, dan saya pun ikut dibanjiri oleh kerjaan (sewaktu tahun terakhir, fase nganggur, dan setelah mendapat kerja), saya mulai agak sulit meluangkan waktu untuk kembali menulis. Sempat saya coba membuat tulisan di blackberry saya, di fitur memopad, sebuah cerita singkat, drama satu babak, yang cukup ringan. Saya uji ke dua orang pembaca, sepupu saya dan teman kuliah saya, dan ternyata tanggapannya cukup oke.
Dari situ saya berpikir, mungkin saya harus mulai menulis lagi. Menulis hal-hal yang sederhana. Dimulai dari hal-hal yang sederhana. Siapa tahu bisa nyaingi Pak Dahlan Iskan yang banyak dikagumi orang karena mampu menuliskan hal-hal yang rumit secara sederhana.

Menyederhanakan masalah, itu ternyata hal penting yang sayangnya tidak semua orang bisa. Masalah yang rumit harus disederhanakan agar dapat dimengerti. Tapi jangan digampangin. Kalau meminjam istilah yang pernah saya baca di buku tentang manajemen proyek [karangan Tobis & Tobis], si (para lebih tepat) pengarang mengutip salah satu kata-kata dari (saya lupa namanya) bahwa segala sesuatu itu harus disederhanakan, tetapi jangan lebih dari itu. “Everything should be made as simple as possible, but no simpler,” itu bunyi kutipannya (yang ternyata diutarakan oleh Einstein, tetapi saya terlalu malas untuk menggeser halaman ke atas lagi dan meralat tulisan sebelumnya).

Blog ini sudah saya telantarkan selama 27 bulan (2 tahun + 3 bulan). Dalam kurun waktu tersebut bukannya tidak ada hal menarik dalam kehidupan saya. Bukannya tidak ada peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi. Bahkan menurut salah satu sumber terpercaya, dari September 2009 hingga Desember 2011 ini terdapat setidaknya 149* peristiwa yang masuk kategori peristiwa bersejarah – rasionya berarti tiap bulan ada sekitar 5.5 peristiwa yang masuk kategori ‘bersejarah’ . Tetapi itulah, terkadang saya menunggu hal yang benar-benar luar biasa. Hal yang benar-benar spesial. Menulis memoar ekspedisi ke Kilimanjaro, misalnya. Atau catatan pribadi tentang bagaimana susah payahnya mewujudkan pemerataan pendapatan dan kelayakan hidup di seantero nusantara.

Padahal ternyata, setelah saya pikirkan, hal-hal yang sederhana pun dapat menjadi istimewa. Perkara-perkara rutin pun dapat disampaikan sehingga menjadi perkara yang menarik. Saya pikir cara penyampaian pun tak kalah penting dari hal yang disampaikan tersebut. Dalam ranah ilmu pengetahuan humaniora ini disebut pemasaran (mungkin). Kedai-kedai kopi, seperti Starbucks, Excelso, dan lain-lain, saya kira bisa berada tiga langkah didepan kedai-kedai kopi lainnya karena kemampuan penyampaian ini. “Biji kopi ini berasal dari Kepulauan XYZXYZ. Kami mengolahnya dengan cara ABC. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan, kami pun mengajari para petani di sana mengenai bagaimana cara melakukan PQRS sehingga mereka bisa mendapatkan LMNO lebih.”

Ah, inilah yang saya belum bisa & mesti saya pelajari lagi. Menyampaikan secara sederhana, menyampaikan yang sederhana. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak istimewa. Dengan cara yang istimewa.

 

*Sekadar bumbu tambahan saja. Dapat disimpulkan bahwa rasio yang menyertainya pun ngasal.

sekadar pemikiran.

Lagi-lagi kita dibuat resah oleh tindak-tanduk tetangga kita, Malaysia. Banyak kasus yang menandai hitamnya, serta carut-marutnya hubungan Indonesia-Malaysia, kasus Sipadan-Ligitan, Ambalat, Manohara, pengakuan terhadap Reog, Batik, Tari Pendet, serta perlakuan buruk terhadap TKI-TKW, adalah sekelumit dari masalah tersebut. Kita pun dibuat geram menghadapi sikap mereka. Tapi betulkah itu murni karena sikap mereka? Ataukah sikap mereka merupakan dampak dari buruknya sikap kita sendiri?

Kalau kita mau menelaah masalah ini lebih dalam, tampaknya kita turut mempunyai andil dalam menciptakan masalah ini. Masalah pertama kita dengan Malaysia adalah TKI & TKW. Perlakuan buruk yang diterima TKI & TKW kita, pahlawan devisa kita, ternyata bukan 100% karena perilaku buruk orang Malaysia. Seperti yang kita tahu, tata kelola industri TKI & TKW sendiri masih carut-marut. Pungutan liar marak di mana-mana, PJTKI nakal masih marak, perlindungan hukum dari Negara pun masih minim. Kalau perkara Manohara sih saya memilih untuk tidak berkomentar.

Kemudian, masalah yang kedua adalah masalah pengakuan khazanah seni-budaya serta kekayaan alam Indonesia. Ternyata memang selama ini belum ada upaya yang sistematis dari pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk mengakui, serta melindungi khazanah seni-budaya serta alam kita. Sipadan-Ligitan lepas dari Indonesia karena kurangnya dokumen-dokumen yang dapat kita ajukan ke Mahkamah Internasional. Khazanah-khazanah seni-budaya diakui oleh Malaysia karena belum kita ‘amankan’ secara hukum, dengan pemberian paten atau proteksi-proteksi hukum lainnya.

Kekayaan alam kita, masih melanjutkan poin kedua tadi, justru lebih banyak dinikmati oleh orang asing ketimbang kita sendiri. Ketika kita bertamasya ke Singapura, Malaysia dan ke Eropa, orang-orang asing justru menikmati kekayaan alam kita. Ketika kita berobat ke Singapura, kita memberikan sinyal bahwa dunia medis di negara kita ‘tidak sebaik negara Anda’ pada mereka. Ketika kita berwisata ke KL, Genting Highlands, dan sebagainya, kita melemparkan sinyal bahwa ‘negara Anda lebih menarik dari Negara saya’. Ternyata sifat minder terhadap diri sendiri memberikan angin kepada mereka. Ternyata sinyal yang kita lemparkan tersebut dengan cepat ditangkap oleh mereka, dan setelah ditelaah dan dipelajari dengan seksama, terdapat peluang-peluang yang dapat mereka manfaatkan. Contoh jelas adalah pengakuan mereka terhadap khazanah seni-budaya serta alam kita, begitu mereka melakukan klaim atasnya ternyata kita tidak memiliki pembuktian yag cukup untuk mengakuinya sebagai milik kita.

Dalam perekonomian, terdapat segitiga pelaku ekonomi yang terdiri dari pemerintah-swasta-masyarakat. Amat naif jika saya menunjukkan jari ke salah satu pihak saja. Terjadinya peristiwa-peristiwa ini, tak lepas dari tidak seragamnya pergerakan ketiganya. Pemerintah selaku pengendali memiliki kesalahan, swasta sebagai pelaku (inisiator ekonomi) memiliki kesalahan, dan masyarakat juga sebagai konsumen memiliki kesalahan. Pemerintah terlalu lamban, swasta terlalu industrialis (dan tidak ideologis), dan konsumen menuntut terlalu banyak. Kita selalu bisa menuding siapa saja sebagai yang paling bersalah, hanya saja tampaknya akan lebih arif, bijaksana dan ksatria apabila kita bisa mengoreksi diri kita masing-masing.

Mungkin tidak semua dari kita berada dalam pemerintahan atau instansi yang terkait dengan masalah ini. Tidak semua dari kita juga terlibat dalam industri yang terkait dengan masalah ini. Tetapi kita semua, pada akhirnya juga menjadi konsumen yang mengkonsumsi berbagai macam kebutuhan. Mungkin ini sudah saatnya kita bisa berperan lebih sebagai konsumen yang bisa mengkonsumsi secara lebih baik. Setidaknya kita bisa mengendalikan ke mana tiap rupiah yang kita belanjakan: apa hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja, ataukah ada kebaikan lebih besar yang bisa tercapai?

Hanif.
Bukan pengamat hubungan internasional, pariwisata, atau seni-budaya. Hanya seseorang yang terserang insomnia dan kebetulan ada komputer dengan koneksi internet.

Di pintu gerbang ini

Ku berdiri

Di tapal batas ini

Ku beristirahat menarik nafas

Berdiri bukan meratapi sunyi

Sebab tak penting bagiku meratapi sunyi

Bukan pula memikirkan skripsi

Tapi

Ku berdiri di pintu gerbang ini

Di tapal batas ini

Menyaksikan derap langkah anak manusia

Naik-turun dengan ombak

Naik-turun seiring berputarnya roda

Adakah ia menjaring, dari samudra itu, makna?

Apakah, dari pasir itu, ia mengayak emas?

Jikalau begitu sungguh beruntunglah ia

Ataukah ia

Hanya, dengan jalanya, menjaring air, yang takkan dapat dijaring?

Dengan ayakannya, hanya mengayak kerikil?

Ataukah mata kailnya hanya menyangkut pada sampah-sampah yang terapung di Teluk Jakarta?

Jika begitu, sungguh rugilah ia!

Di pintu gerbang ini

Aku masih berdiri

Di tapal batas ini

Aku mulai memandang dengan cemas

Anak itu tetap berjalan

Terkadang berlari

Sempat kulihat ia terpeleset

Sempat tampak menggigit jari

Barusan kulihat ia terbang

Tapi kemudian ia tenggelam

Di pertigaan ia berbelok kanan

Di perempatan ia berjalan lurus

Kepada Pak Polisi ia menanyakan jalan

Hujan turun sebelum ia sempat berteduh

Jalan menurun ia berlari riang

Jalan menanjak nafasnya kehabisan

Di pintu gerbang ini

Di tapal batas ini

Aku masih disini

Aku masih berdiri

Merenungi semua yang tlah kulalui

(‘met ultah ke 24!)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 764 other followers